Mari Merayakan Hari Perempuan!

Setiap anak adalah benih harapan bangsa, sejak kecil tumbuh impian, harapan dan cita-cita yang tertanam pada diri mereka.
Bagaikan bintang yang bersinar, secerca harapan itu akan selalu ada jika kesempatan yang ada digunakan sebagaimana mestinya.
Pendidikan adalah salah satu penunjang terbesar yang layak mereka dapatkan demi meraih impian, harapan dan cita-cita.
Lakah awal untuk anak-anak bagaimana mereka menikmati masa pertumbuhannya di taman kanak-kanak hingga tumbuh menjadi perempuan dewasa yang unggul dalam bidangnya.
Ada beberapa faktor yang mendorong praktik perkawinan anak, di antaranya faktor kemiskinan, tradisi/adat, pendidikan, dan minimnya pengetahuan seksualitas pada remaja. Pada faktor tradisi memiliki alasan pernikahan anak dilakukan untuk menghindari zinah, kemudian dalam konteks kemiskinan, ada orang tua yang mencari pekerjaan di luar daerah dan meninggalkan anak-anaknya tanpa pengetahuan yang cukup. Dari situ, mereka mendapat informasi dan pengetahuan dari sumber lain.

Perkawinan pada Usia Anak memiliki hubungan yang sangat erat dengan capaian pendidikan. 16% remaja tidak berpendidikan sudah pernah melahirkan, sedangkan perempuan yang sempat mengenyam pendidikan tinggi hanya 0,6% pernah hamil pada usia di bawah 19 tahun (lebih dari 26 kali lipat) (SDKI 2012).

Betapa indahnya menjadi seorang ibu yang berpendidikan, sebab anak-anak dari mereka kelak mendapatkan pendidikan primer dari ibu sebelum mereka keluar bersekolah. Namun semua keindahan tersebut dapat sirna jika anak perempuan yang seharusnya menghabiskan waktu untuk melanjutkan pendidikannya terhenti dan harus menikah pada waktu yang belum tepat.

image

seluruh pengharapan perlahan menjauh, yang mendekat hanyalah beban dan tanggung jawab yang begitu berat dipikul bagi seorang anak.
Pengabaian terhadap hak-hak dasar anak perempuan yang terputus karena harus kawin sebelum umur 15-18 Tahun akan berpotensi pada peningkatan angka kematian ibu, angka kematian anak dan melahirkan bayi malnutrisi yang menyebabkan generasi hilang bagi bangsa dimasa depan.

“Kehamilan pada usia remaja beresiko tiga hingga tujuh kali lipat berujung pada kematian ibu dibandingkan kehamilan pada rentang usia 20-35 tahun (dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG, saksi ahli pada Persidangan Mahkamah Konstitusi, hal 5 Risalah Sidang No 30 dan 74/PUU-XII/2014 tertanggal 29 September 2014). Secara global, komplikasi kehamilan adalah penyebab kematian terbesar kedua untuk remaja perempuan usia 15-19 tahun. Pendewasaan usia kehamilan menjadi 20 tahun dapat menurunkan rasio kematian Ibu dari 1,400 per 100,000 kelahiran menjadi 550 per 100,000 kelahiran. Preeklampsia (hipertensi atau tekanan darah tinggi pada kehamilan), kerusakan jalan lahir pasca salin berupa terbentuknya lubang-lubang di vagina, serta kemungkinan terbaliknya rahim, dan depresi pascasalin yang bisa meningkat 25 sampai 50% dari kehamilan remaja tersebut”

image

Tentunya kehamilan pada usia remaja memiliki dampak negatif terhadap pertumbuhan remaja tersebut. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan sangat besar, perkembangan hormon penting dan tingkat kematangan tulang. Bukan hanya itu dilihat dari sudut pandang psikologis, seorang anak tidak seharusnya membesarkan seorang anak. Anak perempuan yang menikah dan hamil pada usia remaja justru sedang mengalami transisi menjadi dewasa. Beban tanggungjawab pengasuhan dan kewajiban-kewajiban pengelolaan rumah tangga memiliki konsekuensi terhadap kesehatan jiwa.
Secara psikososial, remaja perempuan yang berada dalam masa transisi sedang  mempertanyakan jati dirinya dan perannya dalam lingkungan sekitar.
Bagaimana beban tanggung jawab tersebut apabila begitu berat terasa? Akan berdampak pada resiko dan kerentanan yang lebih besar terhadap kekerasan. Pemukulan (beating) sering dipandang sebagai bentuk hukuman yang wajar bagi istri yang dipandang tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

” Sebanyak 41% anak perempuan di Indonesia menganggap wajar seorang suami memukul istri berdasarkan alasan-alasan seperti tidak menyediakan makanan yang enak, tidak menanggapi ajakan melakukan hubungan seksual, tidak mampu mendiamkan anak yang sedang menangis, dan sebagainya.”

image

Begitu banyak resiko yang bisa terjadi pada pernikahan anak, beban yang begitu berat yang seharusnya dipikul orang dewasa, tidak cukupnya bekal pendidikan, minimnya fasilitas kesehatan memadai, kurangnya kesempatan bekerja yang layak untuk memperoleh penghasilan rumah tangga, hal ini tentunya berkontribusi pada pelestarian rantai kemiskinan. Khususnya pada perempuan. Perempuan yang menikah pada usia anak dan terputus pendidikannya akan semakin terpuruk baik pada aspek modal sosial dan hal  ini pula dapat merumuskan serta merendahkan anak perempuan, karena berpotensi menjadi anak yang dilacurkan, dijadikan budak atau pengedar narkoba dalam perdagangan manusia.
Lalu apa yang negara lakukan? Apakah negara melihat peristiwa ini membiarkan begitu saja mengecewakan  bibit unggul bangsa?
Terdapat inkonsistensi hukum karena tidak sejalan instrumen hukum perlindungan anak, antara lain;
Konvensi hak anak yang diratifikasi melalui keputusan preseiden No 36 Tahun 1990
Konvensi sisa yang diratifikasi melalui Undang-Undang No 7 tahun 1984 tentang penghapusan segala diskriminasi terhadap perempuan
Undang-Undang No 35 Tahun 2014 terkait Perlindungan Anak
Namun Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Pasal 7 tentang perkawinan masih membolehkan anak-anak perempuan yang berusia 16 Tahun bahkan dibawah itu untuk menikah dengan izin orangtua.
Akan tetapi, dengana pembenaran perkawinan usia anak dalam UU Perkawinan bukan tidak mungkin dimanfaatkan pedophilia atau orang dengan perilaku seksual menyimpang dengan mengincar anak dapat berlindung dibalik UU ini dan membuat UU Perlindungan Anak tidak dapat diterapkan.

image

Dengan mencegah Perkawinan Anak berarti kita memberi kesempatan setara kepada setiap anak perempuan. Kita dapat mengambil bagian dalam memajukan negeri ini dengan peduli kepada generasi belakang ini. Peduli kepada hidup mereka dan peduli terhadap masa depan bangsa yang penuh harapan
Kejadian ini begitu dekat dengan kita mungkin orang yang kita kenal atau mungkin saja orang yang kita sayangi
Salam pencerahan demi kesetaraan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s