Arogansi Bangunan Urban di tanah indah untuk para terabaikan

Kota adalah manifestasi fisik pada permainan pemaksaan; pemaksaaan ekonomi, pemaksaan sosial dan pemaksaan lingkungan namun, tak hanya kumpulan gedung dan sarana fisik, kota merupakan kesatuan antara lingkungan fisik dan warga kota. Keduanya berinteraksi selama proses berkembangnya kota. Perubahan-perubahan yang bersifat positif akan bermanfaat bagi warga kota.

“Menjelajah ruang yang megah mengarungi waktu yang entah menengadah ke langit yang pemurah pergi dari tanah runtah//ruang yang megah menjelajah waktu yang entah berpihaklah langit yang pemurah berkatilah tanah yang indah kami datang”- Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan-FSTVLST

Makassarku sombere, bagi penduduk kota Makassar tentu tidak asing lagi dengan kata sombere. Sombere (v) 1.ramah, 2.cerewet yang menjadi peradaban baru dan budaya baru Makassar. Beranjak dari kata sombere, setapak kaki berjalan memijaki setiap sudut kota Makassar mata kita akan disuguhkan dengan bangunan yang dijajah oleh modernitas semua yang terlihat sudah dirancang. Seakan-akan bagunan urban yang arogan itu melambaikan dirinya semenarik mungkin hingga kita tidak lagi sadar dan tidak lagi peduli terhadap sesuatu yang perlahan hilang. Tentang kita dan sesuatu yang perlahan hilang; siapa kita dan apa yang perlahan hilang? Lantas ketika hal itu benar-benar hilang masihkah rasa ketidakpekaan itu akan terus hidup?

Mengambil waktu sejenak dan memikirkan sedikit tentang masa depan, Seperti apakah masa depan yang dimaksud itu, Apakah bangunan megah dan angkuh melulu yang menjadi sebuah simbol masa depan lantas melupan gelaran rumput hijau? Bangunan masa depan yang terdiri dari hotel-hotel berbintang berjejer untuk merias gemerlap jalanan kota, mall-mall menjadi kiblat yang disembah mengikuti hukum peradaban yang harus dipatuhi,menciptakan kelas-kelas sosial, kafe-kafe mewah tumbuh berjamur dan menyebar dengan menawarkan status sosial dibandingkan cita rasa dari menunya dan tentunya hanya orang-orang yang berkantong tebal dan berkartu kredit yang dapat menjangkau tempat-tempat tersebut. Lantas harus kemana para penikmat gorengan receh yang betul-betul bisa merasakan kenikmatan dari cita rasa makanan itu sendiri. Jika seperti itu berarti masa depan pula yang akan melupakan budaya sombere yang berarti ramah, sebab yang terlahir hanyalah budaya persaingan-tentang siapa yang mampu datang ke hotel-hotel, kafe-kafe, dan mal-mal tersebut.

Perlu kita ketahui perihal kita, kita adalah pemilik tanah indah yang terabaikan, kita diabaikan oleh penciptaan ruang publik. Sebelum lebih jauh kita harus mengetahui perbedaan public space dan public sphere. Menurut filsuf dan sosiolog dari Jerman, Pakde Habermas, public space berkaitan dengan ruang-ruang publik atau fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah. Sedangkan public sphere tidak sekedar itu, tapi sebuah ruangan dimana masyarakat berkumpul untuk kemudian berkomunikasi membaca realitas dan menghasilkan kesepakatan politik. Lantas, apakah ruang publik adalah sebuah bentuk material (taman kota, institusi, ruang ekspresi), ataukah sebuah nilai?

Pertama-tama pada penciptaan ruang publik, agar ruang publik memihak pada kita pemilik tanah indah yang terabaikan (re:masyarakat umum yang tertindas). Yang harus dibangun terlebih dahulu adalah kesadaran menurut Pakde Habermas atau mengutip Gramsci ialah control hegemony, yaitu bagaimana kita pemilik tanah indah ini mulai mempertanyakan tentang realitas sosial, lalu membentuk sebuah gerakan aktif melalui komunikasi.

Kita pemilik tandah indah yang terabaikan dan mungkin beberapa diantara kita penikmat senja yang tidak lagi bisa menikmati keindahan mahakarya sang pencipta, bakhan matahari terbenam pun mulai enggan terlihat disela-sela bangunan urban mencakar langit malah yang berbondong-bondong menampakkan diri hanyalah baliho iklan komersil yang ternyata tidak sebatas di dunia beberapa inci saja yang bisa kita temui. Kita adalah pemilik tanah indah yang terabaikan begitu membutuhkan ruang rublik yang berbentuk material yaitu gelaran karpet hijau yang tidak asing lagi disebut dengan Ruang Terbuka Hijau.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) mempunyai makna yang bermacam-macam, ruang terbuka hijau mempunyai arti yang lebih sempit dari ruang terbuka semata. Pemakaian hijau mengacu pada fungsi tertentu, istilah ruang terbuka mempunyai dua interpretasi yaitu ruang terbuka yang diatasnya memang sudah ada campur tangan manusia, istilah yang dikenal untuk ruang terbuka pertama adalah man-made open space dan ruang terbuka kedua adalah natural open space. Contoh dari man-made open space antara lain gardens, golf courses & agricultural lands dan mengenai contoh natural open space adalah natural forest land, sand dunes & grass land.

Dalam pemaknaan fungsi Ruang Terbuka Hijau berbeda-beda menurut Klasifikasi Clawson (1969) RTH berfungsi sebagai media pemberi udara dan penerangan (Provision of air and light to buildings) bagi gedung-gedung, RTH berfungsi sebagai pengurang kesan kepadatan yang tinggi (to relieve a sense of crowding), Ruang terbuka yang berfungsi sebagai media rekreasi (recreation functions), RTH berfungsi ekologis (ecological functions), RTH berfungsi sebagai media pembentuk tampilan fisik kota (city-forming functions). Menurut Klasifikasi William (1969) RTH berfungsi sebagai; sumber produksi (resource production), RTH berfungsi untuk preservasi sumber daya alam dan manusia (preservation of natural and human/cultural resources), RTH berfungsi sebagai penunjang kesehatan, rekreasi, pendidikan dan pembentuk kenampakan morfologi kota (functions for health, recreation, education, and urban design), RTH berfungsi sebagai Proteksi Keamanan Publik (functions for public safety), RTH berfungsi sebagai koridor (open space for corridors), RTH berfungsi sebagai cadangan perluasan kota (functions for urban expansion). Dan Klasifikasi Latarjet (1972) RTH sebagai tempat rekreasi (recreational functions), RTH pengembangan kompleks olahraga (development of sport complexes) RTH berfungsi sebagai pengembangan kompleks rekreasi (development of recreational complexes), RTH berfungsi memfasilitasi warga untuk dapat menikmati pemandangan alam ataupun objek-objek alami lainnya (permit urbanites access to landscapes and natural resource areas), Ruang terbuka berfungsi ekologis (ecological functions), mengelola sumber daya alam dan mempertahankan keseimbangan alami (management of natural resources and maintenance of natural equilibrium), mengeola lahan hutan dan situs-situs istimewa (management of woodlands and outstanding sites.

Bagaimana kesadaran kita setelah mengetahui fungsi RTH diatas? Kita para pemilik tanah indah yang terabaikan sangat menginginkan dari kehidupan urban ini adalah taman. Taman merupakan lahan untuk hal-hal menyenangkan yang sama sekali tidak menciptakan sekat-sekat antara si berkantong tebal dan si berkantong tipis dan juga kelas sosial. Dari fungsinya sudah sangat jelas it’s mean a lot in the middle of urban life. Di taman kita bisa berinteraksi dan menghabiskan waktu dengan berolahraga maupun berpiknik ria tanpa melupakan budaya sombere-nya kota Makassar.

Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Pertimbangan pertama Bapak Menteri dalam menetapkan Peraturan ini pada tahun 2007 berbunyi:

“Perkembangan dan pertumbuhan kota/perkotaan disertai dengan alih fungsi lahan yang pesat, telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lahan dalam menopang kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang memadai”

UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang mencantumkan setiap kota wajib memiliki ruang terbuka hijau 30% dari total luas wilayahnya. Jika di rinci 20% RTH publik dan 10% RTH privat yang keloa oleh masyarahkat seperti pekarangan rumah dan halaman perkantoran.

Pemilik tanah indah yang terabaikan ruang terbuka hijau begitu menyehatkan. Akhlak kreativitas dibungkam, ibadah ekspresi dibubarkan lewat perizinan. Tongkrongan sedehana di latar gelaran rumput hijau kota tidak lagi ditertibkan. Ruang Terbuka Hijau dikurangi karena tanah tempat tumbuhnya rumput hijau dianggap sebagai aib kekumuhan yang harus ditutupi dengan aspal dan beton.

Modernitas begitu licik, pembangunan atas nama peradaban diantara kemewahan hanyalah puing-puing sampah yang tidak dapat dinikmati oleh pemilik tanah indah. Masa depan dan kemajuan kota hanya tangkapan distorsi buram lensa fotografi yang tidak menceritakan realitas apapun. Jika sudah begini, bahasa poster Homicide “Organisir Komunitasmu, lawan neoliberalisme” tepat untuk dilakukan sebagai amal shaleh anak muda yang gagah dalam menatap modernitas”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s